
Ngetel dalam bahasa seharian adalah "memasak". Bahasa ngetel ini biasa digunakan oleh santri-santri yang mondok di pondok salaf. Menurut santri-santri yang mondok di pondok salaf kegiatan ngetel ini merupakan kegiatan terpenting nomer dua setelah mengaji kitab.
Biasanya setelah selesai melakuakan kegiatan ngetel, mereka langsung nyedot (merokok). Tapi santri-santri pondok salaf identik sebelum merokok ngrakit terlebih dahulu alias "nglinting". Kenapa mereka lebih memilih ngrakit? Jawabannya simpel saja, agar bisa lebih irit dan nanti uangnya bisa digunakan untuk ngetel dalam waktu yang lama. Santri-santri pondok salaf pun memilih ngetel karena lebih irit. Yang penting perut bisa terisi nasi dan kenyang.
Mungkin bahasa ngetel ini hanya dapat ditemui di pondok-pondok salaf saja. Tapi juga tidak semua pondok-pondok salaf menggunakan bahasa ngetel ini. Kegiatan ngetel ini hanya untuk mereka yang ekonominya menengah ke bawah atau untuk mereka yang ingin hidup ngirit. Menurut saya, budaya ngetel ini sangat sulit ditemui di pondok-pondok modern. Saya pernah bertanya pada teman saya yang mondok di pondok modern, katanya kegiatan ngetel sangat sulit diterapkan di pondok modern. Karena begitu padatnya kegiatan di pondok modern. Lagi pula mereka yang mondok di pondok modern tidak tlaten untuk mengetel. Berbeda dengan mereka yang mondok di pondok salaf, santri-santri yang mondok di pondok salaf sangat semangat untuk mengetel.
Kegiatan ngetel ini biasanya dilakukan dengan cara berkelompok. Jarang sekali ada santri yang ngetel sendiri. Dengan cara ngetel berkelompok bisa mengirit bahan-bahan masakan. Jika Anda ingin tahu asiknya ngetel berkelompok. Kunjungi saja pondok-pondok salaf di sekitar Anda. Atau Anda sekalian saja mondok di pondok salaf, dan ikut ngetel sekalian. Anda akan merasakan nikmatnya kebersamaan mengetel dengan teman-teman dari pondok salaf.