Seni Perang (Menetapkan Rencana)

on Sabtu, 31 Desember 2011

Sun Tzu mengatakan:
Seni perang sangat penting bagi negara. Ini menyangkut masalah hidup atau mati, satu jalan menuju keselamatan atau kehancuran. jadi dalam keadaan apapun tidak boleh diabaikan.

Seni perang dipengaruhi oleh lima faktor konstan, yang semuanya perlu dipertimbangkan. Faktor-faktor tersebut adalah: Hukum Moral, Langit, Bumi, Pimpinan, Metode dan disiplin.

Hukum Moral mendorong orang-orang untuk menyelaraskan diri dengan penguasa mereka, sehingga mereka akan mengikuti tanpa mempertimbangkan nyawa mereka, dan tidak gentar menghadapi semua bahaya.

Langit menunjukkan siang dan malam, panas dan dingin, masa dan musim.

Bumi terdiri dari jarak, besar dan kecil, aman dan bahaya, tanah terbuka dan lorong sempit, serta kemungkinan hidup dan mati.

Pimpinan menggambarkan keunggulan-keunggulan dari kebijakan, ketulusan, kebajikan, keberanian, dan kedisiplinan.

Metode dan disiplin perlu dipahami sebagai penyusunan pasukan dalam bagian-bagian yang tepat, gradasi pangkat diantara para perwira, pemeliharaan jalan yang menghubungkan para pasukan dengan bagian perbekalan, dan pengendalian pengeluaran militer.

Kelima faktor tersebut harus dipahami oleh semua jenderal. Dia yang mengetahuinya akan menang dan dia yang mengetahuinya tidak akan gagal.

Dengan demikian, pada saat menentukan kondisi militer yang tepat, anda perlu membuat keputusan dengan berdasarkan pada perbandingan sebagai berikut:

Mana diantara kedua penguasa yang dikaruniai Hukum Moral?
Mana diantara kedua jederal yang memiliki kemampuan lebih baik?
Mana yang memiliki keuntungan dari Langit dan Bumi?
Pihak mana yang lebih menekankan pada masalah disiplin?

Tu Mu menyinggung tentang sebuah kisah yang menakjubkan tentang Ts'ao Ts'ao (155-220 M), seorang yang menerapkan disiplin dengan ketat di mana suatu ketika, sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkannya tentang perusakan atas hasil panen, dia memutuskan untuk menghukum mati dirinya sendiri karena membiarkan kudanya lepas dan merusak ladang jagung! Namun demikian, sebagai pengganti kepalanya, dia dibujuk untuk memenuhi rasa keadilannya dengan cara memotong rambutnya. "Saat anda memberlakukan sebuah peraturan, lihat apakah peraturan tersebut dilanggar; jika dilanggar, pelakunya harus dihukum mati."

Pasukan mana lebih kuat?
Pihak mana yang memiliki perwira dan prajurit yang lebih terlatih?
Pasukan mana yang lebih menekankan pemberian penghargaan pada tindakan yang baik dan hukuman pada pelanggaran?

Dengan menggunakan ketujuh pertimbangan tersebut, saya bisa mempertimbangkan kemenangan atau pun kekalahan. jenderal yang mendengar nasehat saya dan bertindak atas nasehat tersebut akan menang. Dan dia perlu dipertahankan! Jenderal yang tidak mendengar nasehat saya dan tidak bertindak atas dasar nasehat tersebut akan kalah. Dan dia harus dipecat! Tapi ingat: sementara anda memperoleh keuntungan dari nasehat yang saya berikan, anda juga harus membuka diri terhadap semua kesempatan yang menguntungkan diluar hal-hal yang biasa dan mengubah rencana anda sesuai dengan peluang tersebut.

Semua perang didasarkan pada penipuan. Jadi, apabila mampu menyerang, kita harus kelihatan tidak mampu menyerang; saatmenggunakan kekuatan, kita harus terlihat tidak aktif; saat kita dekat, kita harus membuat musuh mengira kita berada di tempat yang jauh; bila berada jauh, kita harus membuatnya mengira kita berada di dekat. Pasang umpan untuk menarik perhatian musuh. Buat kekacauan dan hancurkan dia. Jika semua posisinya aman, bersiaplah untuk menghadapinya. Jika dia lebih kuat, hindari. Jika dia mudah marah, usahakan membuat dia marah. Berpura-puralah kelihatan lemah, sehingga dia menjadi sombong. Jika dia sedang santai, jangan biarkan dia istirahat. Jika pasukannya bersatu, pisahkan mereka. serang saat dia tidak siap, dan di tempat yang tidak diperkirakan.

jenderal yang memenangkan sebuah peperangan melakukan banyak perhitungan sebelum perang. Jenderal yang kalah perang hanya membuat sedikit perhitungan sebelum perang. Jadi, banyak perhitungan mengarahkan pada kemenangan, dan sedikit perhitungan mengarahkan pada kekalahan; apalagi bila tanpa perhitungan sama sekali! Dengan memberikan perhatian pada masalah inilah saya bisa melihat siapa yang mungkin menang dan siapa yang akan kalah.

Yesus tidak Ikhlas Disalib (Yesus dan Bapa = dua person terpisah)

on Sabtu, 09 Juli 2011

Selama ini umat Kristen memahami bahwa Yesus dan Allah Bapa adalah dua person yang merupakan satu kesatuan atau bagian dari Trinitas. Yesus adalah Allah Bapa itu sendiri yang menjelma ke dunia. Namun pendapat itu akan membingungkan kita jika kita memperhatikan dan mendalami ayat Injil Lukas berikut ini, ketika Yesus disalib, dimana ia bersabda:

Yesus berkata, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23:34)

Kenapa Yesus berkata begitu, berdosakah orang romawi yang menyalibnya, jelas sangat berdosa. Masalahnya bukan di situ, jelas Yesus tidak mau disalib dan Yesus tidak ikhlas menjalani penyaliban itu.

Kalau kita pikirkan dengan mendalam dengan akal yang bersih, maka hal ini jelas-jelas sangat aneh! Padahal justru penyaliban itu adalah peristiwa besar sebagai akhir tugas Yesus di dunia, dan Yesus dengan senang hati menerimanya sebagai penggenapan Taurat dan penebus dosa. Jadiperbuatan penyaliban adalah bukan suatu kesalahan dan dosa besar dan tentara romawi layak menerima pahala upah penyaliban, karena melancarkan proses penyaliban dan penebusan dosa? Tetapi kenapa Yesus justru keberatan kalau disalib dengan berkata “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”

Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawaKu. Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya.” (Lukas 23:46)

Ayat-ayat di atas justru akan menjadi berkontradiksi kalau kita konfrontir dengan ayat berikut ini:

Jangan takut! Aku adalah yang awal dan yang akhir, dan yang hidup. Aku telah mati, namun lihatlah Aku hidup sampai selama-lamanya dan Aku memang segala kunci maut dan kerajaan maut. (Wahyu 1:18)

Jadi artinya Yesus adalah Bapa itu sendiri, dan yang disalib itu adalah Tuhan Allah Bapa yang menjekma menjadi Tuhan Yesus. Untuk itu perhatikan lagi ayat berikut ini:

Kira-kira jam 3 berserulah Yesus dengan suara nyaring: Eli, Eli, lama sabachtani? Artinya: AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan aku? (Matius 27:46)

Dengan demikian, Tuhan Allah bukan yang disalib, dan Yesus tidak pernah menyatu dengan Bapa, bahkan Bapa meninggalkan Yesus, artinya Bapa tidak sama dengan Yesus?

Profil Ustadz Ideal (Etika Guru Dalam Pendidikan Islam)

on Kamis, 17 Maret 2011

1. Berjiwa Robbani
Maksudnya, seorang guru dalam pendidikan islam, termasuk ustadz di TKA-TPA, haruslah menjadikan Rob (Tuhan) sebagai tempat berangkat, tempat berpijak, dan tempat kembali segala aktifitasnya. Tuhan dan tingkah lakunya serta pola berfikirnya itu senantiasa berpijak dari Tuhan, pada Tuhan, oleh Tuhan, dan untuk Tuhan. Hal ini sesuai dengan petunjuk Allah dalam QS. Ali Imron: 79
"Akan tetapi hendaklah kamu semua menjadi orang-orang Robbani, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan tetapmempelajarinya"

Dengan jiwa Robbani ini, seorang ustadz dituntut untuk senantiasa menyesuaikan diri dengan kehendak Tuhan, bersungguh-sungguh berpegang pada wahyu-Nya, serta mengetahui sifat-sifat yang melekat pada Tuhan.

Tanpa memiliki jiwa Robbani ini, seorang ustadz akan tidak mungkin bisa mengantarkan para santrinya mencapai manusia yang dicita-cita kan oleh pendidikan islam, yaitu terbentuknya manusaia yang berpribadi muslim, manusia yang menjadikan Allah sebagai puncak ketaatan.

2. Niat Yang Benar dan Ikhlas
Islam mengajarkan, hendaknya setiap ustadz melandasi dirinya dalam mendidik para santrinya dengan niat yang benar., yaitu ikhlas semata-mata mencari ridho Allah, bukan mencari imbalan materi, gaji, jasa, pujian, kemasyhuran, kedudukan atau lainnya yang datang dari selain Allah. Andaikan kemudian dia mendapatkan imbalan, gaji misalnya, pastilah gaji itu digunakannya untuk mempermudah jalan untuk mencari keridhoan Allah. Jadi tidak dijadikannya sebagai tujuan (ghoyah), tetapi justru dijadikannya sebagai sarana (wasilah) untuk menuju lebih tinggi, yaitu keridhoan Allah.

Hal ini perlu dicamkan oleh para ustadz dalam mengajarkan ilmunya. Karena memang keikhlasan merupakan pangkal diterimanya amal oleh Allah SWT.
Allah berfirman dalam QS. Al-Bayyinah: 5
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah denganikhlas (murni semata-mata taat) kepada-Nya dalam menkalankan agama"

Rasulullah SAW juga bersabda:
"Sesungguhnya setiap amal itu hanyalah tergantung pada niatnya" (HR. Bukhari Muslim)

Untuk itu tepat sekali bila setiap ustadz senantiasa berikrar sebagaimana yang dituntunkan oleh Allah dalam QS> Al-An'am: 162
"Katakanlah, sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam"

Dalam QS. Huud: 29 Allah juga memberikan pelajaran pada para ustadz melalui kisah Nabi Nuh yang tidak meminta upah dari pengajarannya. "Hai kaumku, aku tiada meminta hartabenda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah"

3. Tawadhu' (Rendah Hati)
Setiap ustadz sudah seharusnya bila menghiasi diri dengan jiwa dan sikap tawadhu' atau rendah hati, serta menjauhkan diri dari sikap riya', sombong, takabur, dan tinggi hati. Karena betapapun luasnya ilmu yang telah dicapai, pada hakekatnya sangatlah sedikit dibandingkan ilmunya Allah. Allah berfiman dalam QS. Al-Isro': 85
"Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan kecuali sedikit"

Dan juag betapa tingginya derajat ilmu yang telah diraih, pada hakekatnya itu hanyalah satu atau dua bidang saja. Sedangkan dalam bidang yang lain boleh jadi masih buta sama sekali. Ingatlah akan peringatan Allah dalam QS. Yusuf: 76
"Dan diatas tiap-tiap orang yang berpengetahuan ini masih ada Yang Maha Tahu"

Untuk itulah tidak sepantasnya seseorang sombong dengan ilmunya. Hanya Allah yang pantas dan berhak untuk sombong. Karena memang Dia Dzat Yang Maha Tahu.

Bila sikap tawadhu' ini benar-benar dimiliki, tentunya akan mendorong kesadaran untuk terus menambah ilmunya dengan cara belajar dari sesama ustadz atau bahkan dari santrinya sendiri. Ibnu Mubarok mengatakan (Athiyah Al-Abrosyi, 1969 : 259)
"Seseorang dikatakan berilmu jika ia masih mau belajar. Dan jika ia merasa telah berilmu, sungguh sebenarnya ia bodoh"

Lubang Api

on Kamis, 03 Februari 2011

Lubang api di Uzbekistan Asia Tengah ini sungguh menakjubkan sekaligus menakutkan. Coba bayangkan jika Anda terjatuh ke dalam lubang besar yang dipenuhi dengan api seperti ini. Pasti badan Anda akan hangus terbakar dan langsung menjadi abu. Sungguh mengerikan, penduduk setempat mengenal Lubang Api ini sebagai Pintu ke Neraka.

Asal muasal terjadinya Lubang Api tersebut berawal sekitar 35 tahun yang lalu, ketika ahli geologis menggali tempat tersebut untuk mencari gas alam. Ketika dilakukan penggalian itu, mereka menemukan satu jurang besar di bawah tanah. Saking besarnya, sampai-sampai semua peralatan penggalian ikut masuk ke dalam jurang tersebut.

Jurang itu dipenuhi dengan gas bumi yang beracun. Nah, untuk mencegah penyebaran gas beracun itu, maka mereka menyalakan api di jurang itu. Dan terjadilah lubang api seperti pada gambar di samping ini.

So amazing. Berbeda dengan fenomena hujan ikan di Australia yang murni kejadian alam, lubang api di Uzbekistan ada sedikit campur tangan manusia.