Dikisahkan dalam sejarah bahwa suatu ketika Ali bin Abi Thalib terlibat dalam sebuah pertarungan satu lawan satu. Ketika itu, Ali unggul dan bisa melumpuhkan musuhnya. Ali pun meletakkan pedang di leher musuh seraya a bersiap menebasnya. Tiba-tiba, musuh itu meludahi muka Ali. Emosi Ali pun memuncak, ia sangat marah. Anehnya, Ali malah melempar pedangnya itu dan membiarkan musuhnya tetap hidup. "Mengapa engkau tidak membunuhku?" tanya musuh Ali. Masih dengan emosi, Ali menjawab. "Jika aku membunuhmu, berarti aku membunuh karena emosi, bukan karena Allah. Dan aku tidak mau mengotori perjuanganku di jalan Allahini dengan nafsu."
Kisah ini mengajarkan pada kita tentang sportivitas saat menang. Seringkali kita dapat bersikap sportif saat mengalami kekalahan, namun ternyata tidak dapat bersikap spotif saat meraih kemenangan. Dalam ajaran islam, sportivitas saat meraih kemenangan berkaitan dengan sifat dan akhlak terpuli sebagaimana dicontohkan dalam kisah Ali bin Abi Thalib tersebut. Apabila dijabarkan lebih dalam, sportivitas dalam kemenangan bermakna tidak menindas musuh yang sudah kalah, tidak mongolok-oloknya, dan tidak menjadi sombong karenanya. Sehingga alangkah indahnya hidup ini apabila dalam dalam sebuah persaingan, yang merasa senang bukan saja pihak yang meraih kemenang, tetapi juga mereka yang kalah.
0 komentar:
Posting Komentar