Haul adalah harimemperingati wafatnya pengasuh, pendiri sebuah pesantren atau memperingati wafatnya seorang kyai atau seorang awli. Secara etimologi kata haul berasah dari bahasa Arab artinya genap satu tahun. Istilah haul digunakan dalam memperingati kewafatan seorang ketika meninggalnya sudah genap satu tahun. Dan ritual haul selalu diadakan pada tiap tahun bertepatan dengan tanggal wafatnya seseorang, biasanya menggunakan kalender tahun hijriyah.
Dalam tradisi pesantren tidak semua orang diperingati hari wafatnya, haul dilakukan bagi mereka yang telah diakui ketokohannya oleh umat, seperti kyai, pengasuh pesantren, tokoh Ormas keagamaan. Haul seseorang tidak mesti diperingati secara missal, boleh jadi seorang tokoh di kampung hanya diperingati oleh beberapa orang, atau seorang ayah diperingati kewafatannya oleh anak-anaknya. Wali Songo merupakan tokoh-tokoh yang selalu dihaulkan secara meriah. Berbagai kalangan umat Islam dari berbagai daerah biasanya hadir dalam peringatan haul seorang tokoh. Dalam kalender PBNU saja mencantumkan 18 tnggal resmi tokoh-tokoh NU dihaulkan, diantaranya KH. Munawir dan KH. Ali Maksum Krapyak Yogyakarta.
Momen haul diikuti oleh masyarakat pesantren, pengasuh, santri, wali santri, dan mengundang pesantren-pesantren lain dan masyarakat umum. Dari sini mereka yang sedang berkonflik tidak tabu untuk hadir, suasana silaturrahmi semacam ini menjadi peredam konflik. Peringatan haul seorang tokoh biasanya merupakan rangkaian acara yang padat, diisi dengan halaqoh, perlombaan, bazaar, ceramah agama, dan puncaknya adalah ritual pembacaan manaqib (kisah hidup sang tokoh) dan dzikir-tahlil. Pesan yang disampaikan dalam ceramah agama memuat himbauan untuk meneladani sikap bijak sang tokoh yang sedang dihaulkan, pesan-pesan perdamaian sangat kental dalam momen haul.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar