Kursi dan Peradaban

on Rabu, 04 November 2009

  Adanya pesuruh, pegawai, guru, kepala sekolah, dan ketua yayasan dalam sebuah lembaga pendidikan adalah sesuatu yang alamiah. Mereka telah menduduki posisi yang memang selayaknya ada disana. Fenomena alamiah ini wajar, tetapi setelah proses interaksi nilai-nilai, posisi-posisi itu menjadi terasa sangat terbedakan dan bahkan seolah-olah kurang terhubungkan.

  posisi, sebutlah kursi, yang diduduki pesuruh sangat menyakitkan karna disitu mungkin ada atau ditaruh sejumlah paku. Sedangkan, kursi yang diduduki ketua yayasan sungguh nyaman, prestisius, penuh aroma wangi. Masyarakat dengan segala nilai yang dibawanya kemudian ikut memperkuat citra enak dan tidak enaknya tersebut. Semakin ke bawah kursi itu semakin menyakitkan, terus buram, kering, dan tanpa masa depan.

  Dalam kasus rumput, semak belukar, sampai pohon-pohon besar, tidak ada masalah baik dan buruk disana. Namun, setelah itu dihubungkan dengan kepentingan tertentu manusia, muncullah baik dan buruk. Kasian hidup keluarga rumput yang menghijau dan segar itu diinjak-injak. Betapa membanggakan jadi pohon besar, anggun, dan dihormati, meski dipucuknya angin kencang menerpa. Akhirnya, ada orang yang berjuang untuk menjauhi sang kursi. Sebaliknya, ada juga, bahkan paling banyak, yang berjuang mendekatinya untuk merangkulnya erat-erat.

0 komentar:

Posting Komentar